• Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (ilmu dan keyakinan vol.1)

    Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (ilmu dan keyakinan vol.1)

    • Al-imam al-Ghazali
    • Republika penebit
    • 2014
    • -
    Sinopsis

    Buku ini mengkritik kondisi umat yang sibuk pada formalitas agama tetapi kehilangan ruh spiritual dan akhlaknya. Karena itu, Al-Ghazali berusaha mengembalikan keseimbangan antara ilmu, amal, dan penyucian hati. Pokok-pokok isi buku antara lain: 1. Keutamaan Ilmu Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah jalan utama mendekat kepada Allah. Orang berilmu memiliki kedudukan tinggi karena dengan ilmu manusia dapat membedakan yang benar dan salah serta menjalankan ibadah dengan benar. 2. Pembagian Ilmu Ilmu dibagi menjadi: -ilmu yang wajib dipelajari setiap Muslim (fardhu ‘ain), seperti dasar akidah dan ibadah, -serta ilmu yang menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah), seperti kedokteran, matematika, dan ilmu sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. 3. Adab Guru dan Murid Buku ini membahas etika dalam menuntut ilmu. Murid dianjurkan rendah hati, menghormati guru, ikhlas mencari ilmu, dan tidak belajar demi kedudukan atau pujian. Guru pun harus mengajar dengan niat ibadah dan kasih sayang, bukan demi keuntungan pribadi. 4. Bahaya Ulama yang Menyimpang Al-Ghazali mengkritik ulama yang menjadikan ilmu sebagai alat mencari kekuasaan, harta, atau pengaruh. Menurutnya, ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan justru dapat menjadi sebab kehancuran spiritual. 5. Hakikat Keyakinan (Yaqin) Bagian penting dalam jilid ini adalah pembahasan tentang keyakinan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa iman sejati bukan hanya hafalan atau ucapan lisan, tetapi keyakinan mendalam yang hidup di dalam hati. 6. Tingkatan Keimanan Manusia memiliki tingkat keyakinan yang berbeda-beda: ada yang hanya percaya berdasarkan informasi, ada yang yakin karena pemahaman, dan ada yang mencapai keyakinan mendalam melalui pengalaman spiritual dan kedekatan kepada Allah. 7. Hubungan Ilmu dan Amal Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah membentuk akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu sejati harus melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan amal saleh.

    Kata Kunci
    Tersedia di Perpustakaan Kampus:
    • Salemba
    Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
Kode Buku : 260694
Kode Klasifikasi : 297.01
Judul Buku : Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (ilmu dan keyakinan vol.1)
Edisi : -
Penulis : Al-imam al-Ghazali
Penerbit : Republika penebit
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2014
ISBN : -
Tajuk Subjek : Ilmu Agama
Deskripsi : xxxii+267 hal 17 x 24 cm
Eksemplar : 1
Stok : 1
Petugas : Anggun Seno Wulandari
Buku ini mengkritik kondisi umat yang sibuk pada formalitas agama tetapi kehilangan ruh spiritual dan akhlaknya. Karena itu, Al-Ghazali berusaha mengembalikan keseimbangan antara ilmu, amal, dan penyucian hati.

Pokok-pokok isi buku antara lain:

1. Keutamaan Ilmu
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah jalan utama mendekat kepada Allah. Orang berilmu memiliki kedudukan tinggi karena dengan ilmu manusia dapat membedakan yang benar dan salah serta menjalankan ibadah dengan benar.

2. Pembagian Ilmu
Ilmu dibagi menjadi:
-ilmu yang wajib dipelajari setiap Muslim (fardhu ‘ain), seperti dasar akidah dan ibadah,
-serta ilmu yang menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah), seperti kedokteran, matematika, dan ilmu sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

3. Adab Guru dan Murid
Buku ini membahas etika dalam menuntut ilmu. Murid dianjurkan rendah hati, menghormati guru, ikhlas mencari ilmu, dan tidak belajar demi kedudukan atau pujian. Guru pun harus mengajar dengan niat ibadah dan kasih sayang, bukan demi keuntungan pribadi.

4. Bahaya Ulama yang Menyimpang
Al-Ghazali mengkritik ulama yang menjadikan ilmu sebagai alat mencari kekuasaan, harta, atau pengaruh. Menurutnya, ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan justru dapat menjadi sebab kehancuran spiritual.

5. Hakikat Keyakinan (Yaqin)
Bagian penting dalam jilid ini adalah pembahasan tentang keyakinan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa iman sejati bukan hanya hafalan atau ucapan lisan, tetapi keyakinan mendalam yang hidup di dalam hati.

6. Tingkatan Keimanan
Manusia memiliki tingkat keyakinan yang berbeda-beda:
ada yang hanya percaya berdasarkan informasi,
ada yang yakin karena pemahaman,
dan ada yang mencapai keyakinan mendalam melalui pengalaman spiritual dan kedekatan kepada Allah.

7. Hubungan Ilmu dan Amal
Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah membentuk akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu sejati harus melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan amal saleh.
Terkait Subjek Buku yang sama