-
Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (dunia dan godaannya vol.6)
- Al-imam al-Ghazali
- Republika penebit
- 2012
- -
Tema utama buku ini adalah bahwa dunia bukan untuk dibenci sepenuhnya, tetapi harus diposisikan sebagai sarana menuju akhirat, bukan tujuan akhir kehidupan. Beberapa pokok pembahasan penting dalam jilid ini antara lain: 1. Hakikat Dunia Al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia bersifat sementara, menipu, dan penuh ujian. Manusia sering terlena oleh kenikmatan materi, kedudukan, dan pujian hingga melupakan kehidupan akhirat. Dunia diibaratkan bayangan yang cepat berlalu dan tidak layak menjadi sandaran hati. 2. Bahaya Harta dan Ketamakan Harta bukan sesuatu yang haram, tetapi kecintaan berlebihan terhadapnya dapat melahirkan keserakahan, iri hati, dan kelalaian ibadah. Al-Ghazali mengingatkan pentingnya mencari rezeki secara halal dan menggunakan kekayaan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan. 3. Cinta Kedudukan dan Popularitas Salah satu godaan terbesar manusia adalah keinginan dihormati dan dipuji. Menurut Al-Ghazali, ambisi terhadap kekuasaan dan popularitas sering kali merusak keikhlasan serta menumbuhkan riya’ dan ujub (bangga diri). 4. Penyakit Lisan dan Pergaulan Buku ini juga membahas dosa-dosa yang sering dianggap ringan, seperti ghibah (menggunjing), fitnah, dusta, debat berlebihan, dan ucapan sia-sia. Lidah disebut sebagai salah satu sumber kerusakan terbesar bagi manusia bila tidak dijaga. 5. Amarah, Dengki, dan Kesombongan Al-Ghazali menguraikan berbagai penyakit hati yang timbul dari hawa nafsu. Dengki membuat seseorang tidak senang melihat kebahagiaan orang lain, sedangkan kesombongan menjauhkan manusia dari kerendahan hati dan kebenaran. 6. Tipu Daya Setan Setan digambarkan selalu mencari jalan untuk menyesatkan manusia, bahkan melalui amal ibadah sekalipun, misalnya dengan menanamkan rasa bangga diri atau riya’. Karena itu, manusia harus selalu waspada dan melakukan muhasabah (introspeksi diri). 7. Penyucian Jiwa Sebagai solusi, Al-Ghazali mengajak pembaca memperbanyak dzikir, tafakur, ikhlas, dan pengendalian hawa nafsu. Hati yang bersih hanya dapat dicapai dengan latihan spiritual dan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
- Salemba
Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
| Kode Buku | : | 260692 |
| Kode Klasifikasi | : | 297.01 |
| Judul Buku | : | Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (dunia dan godaannya vol.6) |
| Edisi | : | - |
| Penulis | : | Al-imam al-Ghazali |
| Penerbit | : | Republika penebit |
| Bahasa | : | Indonesia |
| Tahun | : | 2012 |
| ISBN | : | - |
| Tajuk Subjek | : | Ilmu Agama |
| Deskripsi | : | vi+400 hal 17 x 24 cm |
| Eksemplar | : | 1 |
| Stok | : | 1 |
| Petugas | : | Anggun Seno Wulandari |
Beberapa pokok pembahasan penting dalam jilid ini antara lain:
1. Hakikat Dunia
Al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia bersifat sementara, menipu, dan penuh ujian. Manusia sering terlena oleh kenikmatan materi, kedudukan, dan pujian hingga melupakan kehidupan akhirat. Dunia diibaratkan bayangan yang cepat berlalu dan tidak layak menjadi sandaran hati.
2. Bahaya Harta dan Ketamakan
Harta bukan sesuatu yang haram, tetapi kecintaan berlebihan terhadapnya dapat melahirkan keserakahan, iri hati, dan kelalaian ibadah. Al-Ghazali mengingatkan pentingnya mencari rezeki secara halal dan menggunakan kekayaan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.
3. Cinta Kedudukan dan Popularitas
Salah satu godaan terbesar manusia adalah keinginan dihormati dan dipuji. Menurut Al-Ghazali, ambisi terhadap kekuasaan dan popularitas sering kali merusak keikhlasan serta menumbuhkan riya’ dan ujub (bangga diri).
4. Penyakit Lisan dan Pergaulan
Buku ini juga membahas dosa-dosa yang sering dianggap ringan, seperti ghibah (menggunjing), fitnah, dusta, debat berlebihan, dan ucapan sia-sia. Lidah disebut sebagai salah satu sumber kerusakan terbesar bagi manusia bila tidak dijaga.
5. Amarah, Dengki, dan Kesombongan
Al-Ghazali menguraikan berbagai penyakit hati yang timbul dari hawa nafsu. Dengki membuat seseorang tidak senang melihat kebahagiaan orang lain, sedangkan kesombongan menjauhkan manusia dari kerendahan hati dan kebenaran.
6. Tipu Daya Setan
Setan digambarkan selalu mencari jalan untuk menyesatkan manusia, bahkan melalui amal ibadah sekalipun, misalnya dengan menanamkan rasa bangga diri atau riya’. Karena itu, manusia harus selalu waspada dan melakukan muhasabah (introspeksi diri).
7. Penyucian Jiwa
Sebagai solusi, Al-Ghazali mengajak pembaca memperbanyak dzikir, tafakur, ikhlas, dan pengendalian hawa nafsu. Hati yang bersih hanya dapat dicapai dengan latihan spiritual dan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Terkait Subjek Buku yang sama
-
Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (zuhud, cinta, & kematian vol.9)
- Al-imam al-Ghazali
- Republika penebit
- 2013
- -
Isi utama buku ini mencakup beberapa tema besar: 1. Zuhud dan Fakir Al-Ghazali menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan ... Lihat Selengkapnya
-
Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (dunia dan godaannya vol.6)
- Al-imam al-Ghazali
- Republika penebit
- 2012
- -
Tema utama buku ini adalah bahwa dunia bukan untuk dibenci sepenuhnya, tetapi harus diposisikan sebagai sarana menuju akhirat, bukan tujuan akhir kehidupan. Beberapa pokok pembahasan penting dalam ... Lihat Selengkapnya
-
Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (sabar dan syukur vol.8)
- Al-imam al-Ghazali
- Republika penebit
- 2013
- -
Buku ini menekankan bahwa sabar dan syukur bukan sekadar sikap emosional, melainkan bentuk ibadah hati yang menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Pokok-pokok isi buku meliputi: 1. ... Lihat Selengkapnya
-
Al-Ghazali, ihya ‘ulumiddin, menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (ilmu dan keyakinan vol.1)
- Al-imam al-Ghazali
- Republika penebit
- 2014
- -
Buku ini mengkritik kondisi umat yang sibuk pada formalitas agama tetapi kehilangan ruh spiritual dan akhlaknya. Karena itu, Al-Ghazali berusaha mengembalikan keseimbangan antara ilmu, amal, dan ... Lihat Selengkapnya