• Sang patriot : sebuah epos kepahlawanan

    Sang patriot : sebuah epos kepahlawanan

    • Irma Devita
    • Gramedia Pustaka Utama
    • 2013
    • 978-602-14969-0-9
    Sinopsis

    “Kekurangan senjata bisa ditambah, kekurangan pasukan bisa digalang, kekurangan ilmu perang bisa dipelajari, tapi kehilangan semangat juang sama artinya dengan kehilangan segala-galanya.” (halaman 81) Kepahlawanan yang diajarkan oleh Sroedji patut ditiru oleh para pemuda saat ini. Agar semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan yang didapat dengan tumpah darah pahlawan mampu tetap dipergunakan dengan cara yang sebaik-baiknya. Teladan dan kharismatika Sroedji merupakan pesona yang membuat para prajuritnya mampu bertahan di tengah gempuran perang. Keshalihannya dan disiplin tinggi yang dia dapat selama pendidikan di PETA menjadikan dia mampu menyerap ilmu yang diajarkan. Kedekatan pada Tuhan yang membuat Sroedji mampu bertahan di tengah peperangan dan tetap dalam kondisi tenang dalam mengambil keputusan. “Kita adalah prajurit Mur,… kita tidak boleh kehilangan semangat juang. Seorang prajurit yang kehilangan semangat juang ibarat mayat yang sedang mengusung keranda kematiannya sendiri.” (halaman 57) “Musuh sudah menyerah. Jangan kalian membunuh tanpa alasan. Jangan menebar maut secara keji. Kita berperang untuk mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Kita bukan pembunuh.” (halaman 207) Pengaruh pendidikan yang diajarkan di sekolah HIS, MULO, dll mampu membuat para penggerak kemerdekaan menyusun siasat. Ini merupakan sebuah bukti bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk mencapai masa depan yang lebih gemilang, cara terbaik untuk mengubah nasib suatu bangsa yang dulunya terjajah oleh bangsa lain selama berabad-abad lamanya. Persahabatan yang erat antara Dokter Soebandi dan Sroedji yang dulunya seorang mantri desa, membuat mereka saling bahu membahu untuk membuat siasat perang agar tidak banyak jatuh korban. Sikap Sroedji yang merakyat, mengayomi, sabar dan ramah pada prajurit lainnya membuat mereka serasa keluarga yang saling melindungi.

    Kata Kunci
    Tersedia di Perpustakaan Kampus:
    • Kramat 98
    Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
Kode Buku : 221219
Kode Klasifikasi : 923.5
Judul Buku : Sang patriot : sebuah epos kepahlawanan
Edisi : -
Penulis : Irma Devita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2013
ISBN : 978-602-14969-0-9
Tajuk Subjek : Biografi
Deskripsi : 280 hlm, 21 cm
Eksemplar : 1
Stok : 1
Petugas : Nur Santy, S.Hum
“Kekurangan senjata bisa ditambah, kekurangan pasukan bisa digalang, kekurangan ilmu perang bisa dipelajari, tapi kehilangan semangat juang sama artinya dengan kehilangan segala-galanya.” (halaman 81)

Kepahlawanan yang diajarkan oleh Sroedji patut ditiru oleh para pemuda saat ini. Agar semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan yang didapat dengan tumpah darah pahlawan mampu tetap dipergunakan dengan cara yang sebaik-baiknya.

Teladan dan kharismatika Sroedji merupakan pesona yang membuat para prajuritnya mampu bertahan di tengah gempuran perang. Keshalihannya dan disiplin tinggi yang dia dapat selama pendidikan di PETA menjadikan dia mampu menyerap ilmu yang diajarkan. Kedekatan pada Tuhan yang membuat Sroedji mampu bertahan di tengah peperangan dan tetap dalam kondisi tenang dalam mengambil keputusan.

“Kita adalah prajurit Mur,… kita tidak boleh kehilangan semangat juang. Seorang prajurit yang kehilangan semangat juang ibarat mayat yang sedang mengusung keranda kematiannya sendiri.” (halaman 57)

“Musuh sudah menyerah. Jangan kalian membunuh tanpa alasan. Jangan menebar maut secara keji. Kita berperang untuk mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Kita bukan pembunuh.” (halaman 207)

Pengaruh pendidikan yang diajarkan di sekolah HIS, MULO, dll mampu membuat para penggerak kemerdekaan menyusun siasat. Ini merupakan sebuah bukti bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk mencapai masa depan yang lebih gemilang, cara terbaik untuk mengubah nasib suatu bangsa yang dulunya terjajah oleh bangsa lain selama berabad-abad lamanya.

Persahabatan yang erat antara Dokter Soebandi dan Sroedji yang dulunya seorang mantri desa, membuat mereka saling bahu membahu untuk membuat siasat perang agar tidak banyak jatuh korban. Sikap Sroedji yang merakyat, mengayomi, sabar dan ramah pada prajurit lainnya membuat mereka serasa keluarga yang saling melindungi.

Terkait Subjek Buku yang sama