-
Nepenthe
- Yustika M
- Gradien Mediatama
- 2019
- 978-602-208-173-9
Aroma coklat dan lantunan musik yang diputar dari home theater menambah kesan klasik dan kenyamanan dalam ruang cafe bergaya vintage sore itu. Sepasang bola mata hitam menatap lurus ke secangkir coklat panas di atas meja. Di pojok ruang kafe terlihat dua remaja saling berhadapan, yang cowok terlihat murung dengan tangan memegang secangkir coklat panas itu yang tak kunjung dia minum. Sementara seorang gadis di hadapannya hanya bungkam sambil menatap cowok itu. Satu jam setelah mereka datang ke kafe itu, keduanya saling duduk berhadapan namun tidak terlibat percakapan apapun. Sibuk dengan pikiran masing - masing. Terlebih cowok itu masih dalam keadaan duka. Suara hujan deras di luar sana masih terkalahkan oleh suara musik dari home theater itu. Helaan nafas terdengar lirih , cowok itu menatap keluar jendela. Memerhatikan beribu air yang jatuh ke bumi, membasahi jalanan beraspal. Sementara si gadis berdehem, akan mengeluarkan suaranya namun kembali bungkam ketika sepasang bola mata tajam itu kini menatapnya, membuat dia langsung menunduk tidak berani menatap kedua mata itu. "Ayo, pulang." Langga beranjak dari tempatnya. Gadis itu mengangguk tidak membantah meski mereka belum lama berada di sana, tapi apa daya dia tidak bisa membantah tiap kali kedua matanya bertabrakan dengan kedua bola mata hitam legam itu. Dia melangkah terlebih dahulu, sebelum kakinya melewati kursi yang diduduki oleh Langga tangannya sudah ditarik hingga membuat tubuhnya menabrak dada bidang itu. Sebuah melingkar, memeluknya menyalurkan rasa hangat yang membuat siapapun akan terasa nyaman. Dia bergerak, melawan pelukan itu namun bukan terlepas tapi pelukan itu semakin erat. "Tetep kayak gini." Suara bass yang terdengar serak itu berbisik lembut tepat di telinganya. " Tapi ... " Aku pikir mencintaimu perihal mudah, bagaimana perasaanmu terhadapku itu biar menjadi urusanmu. Namun, ternyata memang tak semudah itu. Ada banyak harapan yang aku inginkan. Salah satunya kamu membalas perasaanku. Apa mencintaimu memang harus sesakit ini?
- BSD
Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
| Kode Buku | : | 260979 |
| Kode Klasifikasi | : | 813.92 |
| Judul Buku | : | Nepenthe |
| Edisi | : | - |
| Penulis | : | Yustika M |
| Penerbit | : | Gradien Mediatama |
| Bahasa | : | Indonesia |
| Tahun | : | 2019 |
| ISBN | : | 978-602-208-173-9 |
| Tajuk Subjek | : | Fiksi Indonesia,Novel Romansa |
| Deskripsi | : | 396 hal., 19 cm |
| Eksemplar | : | 1 |
| Stok | : | 1 |
| Petugas | : | Salsabila Hasna Dhia |
Sepasang bola mata hitam menatap lurus ke secangkir coklat panas di atas meja. Di pojok ruang kafe terlihat dua remaja saling berhadapan, yang cowok terlihat murung dengan tangan memegang secangkir coklat panas itu yang tak kunjung dia minum.
Sementara seorang gadis di hadapannya hanya bungkam sambil menatap cowok itu. Satu jam setelah mereka datang ke kafe itu, keduanya saling duduk berhadapan namun tidak terlibat percakapan apapun.
Sibuk dengan pikiran masing - masing. Terlebih cowok itu masih dalam keadaan duka. Suara hujan deras di luar sana masih terkalahkan oleh suara musik dari home theater itu. Helaan nafas terdengar lirih , cowok itu menatap keluar jendela.
Memerhatikan beribu air yang jatuh ke bumi, membasahi jalanan beraspal. Sementara si gadis berdehem, akan mengeluarkan suaranya namun kembali bungkam ketika sepasang bola mata tajam itu kini menatapnya, membuat dia langsung menunduk tidak berani menatap kedua mata itu.
"Ayo, pulang." Langga beranjak dari tempatnya. Gadis itu mengangguk tidak membantah meski mereka belum lama berada di sana, tapi apa daya dia tidak bisa membantah tiap kali kedua matanya bertabrakan dengan kedua bola mata hitam legam itu.
Dia melangkah terlebih dahulu, sebelum kakinya melewati kursi yang diduduki oleh Langga tangannya sudah ditarik hingga membuat tubuhnya menabrak dada bidang itu.
Sebuah melingkar, memeluknya menyalurkan rasa hangat yang membuat siapapun akan terasa nyaman. Dia bergerak, melawan pelukan itu namun bukan terlepas tapi pelukan itu semakin erat.
"Tetep kayak gini." Suara bass yang terdengar serak itu berbisik lembut tepat di telinganya.
" Tapi ... "
Aku pikir mencintaimu perihal mudah, bagaimana perasaanmu terhadapku itu biar menjadi urusanmu. Namun, ternyata memang tak semudah itu. Ada banyak harapan yang aku inginkan. Salah satunya kamu membalas perasaanku.
Apa mencintaimu memang harus sesakit ini?
Terkait Subjek Buku yang sama
-
Moga bunda disayang Allah
- Tere Liye
- Republika
- 2014
- 978-602-8997-65-2
"Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna... Senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada...." "Buku ini akan membuat Anda lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Jangan menjadi ... Lihat Selengkapnya
-
Diary si bocah tengil
- Kinney, Jeff
- Atria
- 2010
- 978-979-1411-20-2
Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal. perut terkocok. bahkan mata berair. Kekonyolon dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali ... Lihat Selengkapnya
-
Dokter rakyat
- Andre Setiawan
- KOMPAS
- 2015
- 978-979-709-920-6
Dokter yang bertugas di daerah terpencil tak hanya akan bertemu dengan berbagai penyakit dan para pasien sederhana yang sama sekali belum pernah tersentuh tangan tenaga medis modern, tetapi mereka ... Lihat Selengkapnya
-
Cinta bertabur di langit mekah
- Roidah
- Erlangga
- 2009
- 978-979-033-837-1
Rhada tak pernah bisa melupakan Osman, pria yang telah memikat hatinya selama bertahun-tahun. Sayang, cintanya tak kunjung terbals. Lelah dengan kehidupan duniawi, ia pun memutuskan bersimpuh di ... Lihat Selengkapnya
-
Sunset bersama Rosie
- Tere Liye
- Mahaka Publishing
- 2014
- 978-602-98883-6-2
Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang ... Lihat Selengkapnya