-
Masyitoh
- Ajib Rosidi
- Dunia Pustaka Jaya
- 2006
- 979-419-340-2
Berangkat dari keyakinan yang sama, manusia memiliki pola pikir dan cara yang berbeda dalam menginterpretasikan keyakinan tersebut di kehidupan sehari-hari. Perbedaan itu yang membuat manusia merasa perlu berpikir lebih jauh untuk mendapatkan kesimpulan, pemahaman baru yang berupa kebenaran, atau sekadar sebagai sarana mencari pembenaran. Buku ini cukup menekankan pada perbedaan tafsir mengenai konsep pengorbanan. Terkadang pengorbanan seseorang untuk keyakinannya diartikan secara sempit, tanpa melihat konteks yang lebih luas di dalamnya. Padahal pengorbanan yang dilakukan bisa jadi untuk martabat manusia sendiri. Masyitoh sang juru sisir Tuan Putri, dengan tegas dan santun menyatakan ketidaksetujuan mengenai perendahan diri martabat manusia: penyembahan terhadap sesama makhluk yang dengan serakah mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dalam buku ini, selain menunjukkan dari sisi bani israil yang memiliki keyakinan sebagaimana keyakinan Nabi Ibrahim, juga dari sisi pengikut Fir’aun yang meyakini bahwa hidup dan mati ada di tangan Fir’aun. Terdapat poin-poin pemikiran yang sebagian bertolak belakang walau berangkat dari keyakinan yang sama. Seperti halnya sosok Amran yang memilih manut–mengikuti apapun yang disampaikan oleh panutan tanpa pernah mengajukan pertanyaan–, sedangkan Nasab dengan pemikirannya yang menganggap bahwa kepasrahan dan menunggu pertolongan Allah seharusnya dibarengi dengan usaha yang maksimal, bukan terus-menerus hanya menerima segala siksaan anak buah Fir’aun tanpa perlawanan. Pemahaman Nasab bahwa salah satu hal terpenting dari mempertahankan keyakinan selain berpegang teguh dengan apa yang telah dipercayai yaitu berjuang membuktikannya kekuatan tetapi tidak menyalahi aturan dari Allah merupakan kekritisan dalam penafsiran konteks pengorbanan. Dari sisi penokohan, Fir’aun digambarkan memiliki sisi sifat manusia biasa. Penganggapan pribadi dan pengakuan kaumnya bahwa dia adalah Tuhan memang menimbulkan keserakahan. Namun di beberapa bagian Fir’aun juga mengalami kebimbangan mengenai kaum bani Israil yang dipekerjakan secara paksa, memikirkan kesejahteraannya dan meragukan usulan bawahannya agar setiap bayi dari keturunan bani Israil dibunuh. Padahal pada akhirnya itu kembali untuk kepentingannya, yaitu akan ada banyak pekerja mati, sehingga piramidanya ‘tak kunjung selesai dan bayi-bayi dibunuh tidak akan ada lagi pasukan tentara yang melindunginya.
- Kramat 98
Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
| Kode Buku | : | 220815 |
| Kode Klasifikasi | : | 297.6 |
| Judul Buku | : | Masyitoh |
| Edisi | : | - |
| Penulis | : | Ajib Rosidi |
| Penerbit | : | Dunia Pustaka Jaya |
| Bahasa | : | Indonesia |
| Tahun | : | 2006 |
| ISBN | : | 979-419-340-2 |
| Tajuk Subjek | : | Agama Islam |
| Deskripsi | : | 144 hlm. ; 19 cm |
| Eksemplar | : | 1 |
| Stok | : | 1 |
| Petugas | : | Nur Santy, S.Hum |
Buku ini cukup menekankan pada perbedaan tafsir mengenai konsep pengorbanan. Terkadang pengorbanan seseorang untuk keyakinannya diartikan secara sempit, tanpa melihat konteks yang lebih luas di dalamnya. Padahal pengorbanan yang dilakukan bisa jadi untuk martabat manusia sendiri. Masyitoh sang juru sisir Tuan Putri, dengan tegas dan santun menyatakan ketidaksetujuan mengenai perendahan diri martabat manusia: penyembahan terhadap sesama makhluk yang dengan serakah mengaku dirinya sebagai Tuhan.
Dalam buku ini, selain menunjukkan dari sisi bani israil yang memiliki keyakinan sebagaimana keyakinan Nabi Ibrahim, juga dari sisi pengikut Fir’aun yang meyakini bahwa hidup dan mati ada di tangan Fir’aun. Terdapat poin-poin pemikiran yang sebagian bertolak belakang walau berangkat dari keyakinan yang sama. Seperti halnya sosok Amran yang memilih manut–mengikuti apapun yang disampaikan oleh panutan tanpa pernah mengajukan pertanyaan–, sedangkan Nasab dengan pemikirannya yang menganggap bahwa kepasrahan dan menunggu pertolongan Allah seharusnya dibarengi dengan usaha yang maksimal, bukan terus-menerus hanya menerima segala siksaan anak buah Fir’aun tanpa perlawanan.
Pemahaman Nasab bahwa salah satu hal terpenting dari mempertahankan keyakinan selain berpegang teguh dengan apa yang telah dipercayai yaitu berjuang membuktikannya kekuatan tetapi tidak menyalahi aturan dari Allah merupakan kekritisan dalam penafsiran konteks pengorbanan.
Dari sisi penokohan, Fir’aun digambarkan memiliki sisi sifat manusia biasa. Penganggapan pribadi dan pengakuan kaumnya bahwa dia adalah Tuhan memang menimbulkan keserakahan. Namun di beberapa bagian Fir’aun juga mengalami kebimbangan mengenai kaum bani Israil yang dipekerjakan secara paksa, memikirkan kesejahteraannya dan meragukan usulan bawahannya agar setiap bayi dari keturunan bani Israil dibunuh.
Padahal pada akhirnya itu kembali untuk kepentingannya, yaitu akan ada banyak pekerja mati, sehingga piramidanya ‘tak kunjung selesai dan bayi-bayi dibunuh tidak akan ada lagi pasukan tentara yang melindunginya.
Terkait Subjek Buku yang sama
-
-
-
Pendidikan agama islam (Buku ajar MPK agama islam untuk mahasiswa perguruan tinggi)
- Otong Surasman
- Emir
- 2016
- 978-602-0935-51-5
-
Pendidikan islam tantangan dan peluang di era globalisasi
- Hasbi Indra
- Deepublish
- 2016
- 978-602-401-471-1
-