• Jatuh 7 kali bangkit 8 kali : kisah para guru pemberani yang menuai keuntungan dari ketidakadilan

    Jatuh 7 kali bangkit 8 kali : kisah para guru pemberani yang menuai keuntungan dari ketidakadilan

    • Sutarto, G dan J. Sumardianta
    • Bentang
    • 2017
    • 978-602-291-373-3
    Sinopsis

    Ketika menghadapi kemalangan dan ketidakadilan, manusia biasanya mengeluh, meratap, atau bahkan mengutuk. padahal, keberuntngan sebenarnya ada di mana pun. Termasuk saat manusia sedang berada pada titik terburuknya. G. Sutarto dan J. Sumardianta, kedua guru sekolah menengah ini, melewati masa kecil penuh cemoohan teman sepermainan karena situasi ekonomi keluarganya. Alih-alih marah, mereka justru mengasah keterampilan untuk membalikkan situasi memilukan menjadi proses pembelajaran positif. Setiap kesulitan yang rupanya mengantarakan mereka pada pertemuan-pertemuan baru. Pertemuan dengan orang-orang biasa yang mengajarkan kebaikan-kebaikan kecil yang jauh dari tepuk tangan keramaian.

    Kata Kunci
    Tersedia di Perpustakaan Kampus:
    • Pemuda
    Silahkan Login untuk dapat Melakukan Peminjaman Online
Kode Buku : 211225
Kode Klasifikasi : 128
Judul Buku : Jatuh 7 kali bangkit 8 kali : kisah para guru pemberani yang menuai keuntungan dari ketidakadilan
Edisi : -
Penulis : Sutarto, G dan J. Sumardianta
Penerbit : Bentang
Bahasa : Bahasa Indonesia
Tahun : 2017
ISBN : 978-602-291-373-3
Tajuk Subjek : Filsafat,Kehidupan
Deskripsi : xxxvi, 248 hlm.: ill.; 20,5 cm
Eksemplar : 2
Stok : 2
Petugas : Ady Nugroho, S.Hum
Ketika menghadapi kemalangan dan ketidakadilan, manusia biasanya mengeluh, meratap, atau bahkan mengutuk. padahal, keberuntngan sebenarnya ada di mana pun. Termasuk saat manusia sedang berada pada titik terburuknya.
G. Sutarto dan J. Sumardianta, kedua guru sekolah menengah ini, melewati masa kecil penuh cemoohan teman sepermainan karena situasi ekonomi keluarganya. Alih-alih marah, mereka justru mengasah keterampilan untuk membalikkan situasi memilukan menjadi proses pembelajaran positif. Setiap kesulitan yang rupanya mengantarakan mereka pada pertemuan-pertemuan baru. Pertemuan dengan orang-orang biasa yang mengajarkan kebaikan-kebaikan kecil yang jauh dari tepuk tangan keramaian.
Terkait Subjek Buku yang sama