Era Revolusi Industri 4.0

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang mengalami fluktuasi (ketidakpastian) akibat adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) pada kuartal IV ini diprediksikan pertumbuhan ekonomi akan sesuai target yaitu sebesar 5,0% sampai 5,4%, ini akan relatif sama dengan pertumbuhan perekonomian pada kuartal III. Namun, ekonomi Indonesia diprediksi masih akan terus membaik dengan dorongan dari berbagai faktor penggerak roda perekonomian. Pertumbuhan perekonomian ini dinilai sebanding dengan munculnya revolusi industri keempat (Industri 4.0). Revolusi keempat ini ditandai dengan adanya pemanfaatan internet secara lebih baik lagi dimulai dari tahun 90-an. Pemanfaatan Internet of things ini pertama kali dilakukan oleh Jerman, dan Jerman pula lah yang mengglobalkan istilah industri 4.0.

Saat ini kita berada pada pekembangan teknologi yang amat dahsyat. Perkembangan ini sangat mencuri perhatian masyarakat luas tanpa mengenal ras, golongan, dan bahkan umur. Seperti yang dapat kita lihat di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi sangat cepat diantaranya semakin di mudahkannya kita dalam mengakses internet untuk melakukan transaksi perbankan, belanja secara online, maupun yang lainnya. Indonesia termasuk negara yang memiliki jumlah konsumen dalam jumlah yang tidak sedikit. Besar kemungkinan sangat berpotensi bagi revolusi industri 4.0 untuk berkembang pesat di Indonesia dan ikut andil dalam mendorong perbaikan ekonomi Indonesia.

Industri 4.0 akan menciptakan peluang ekonomi yang baru bagi kehidupan ekonomi, sosial, maupun kehidupan pribadi diantaranya dalam mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan dengan sekitar (Tjandrawinata, 2016). Misalnya, banyak toko konvensional yang mulai mengelola website untuk memenuhi permintaan konsumen atau masyarakat yang saat ini lebih memilih duduk manis dan berbelanja dengan menggunakan gadget model terbaru yang mereka miliki. Contoh selanjutnya yaitu ketika akan melakukan pembayaran pun mereka hanya tinggal membuka applikasi e-banking, tanpa harus pergi dari rumah ataupun kantor tempat kerja dan tanpa membuang waktu untuk antri di ATM ataupun bank terdekat. Tetapi ia juga bisa menyebabkan pengkerdilan dan marjinalisasi beberapa kelompok, memperburuk ketimpangan sosial, menciptakan risiko keamanan yang baru, serta dapat merusak hubungan antar manusia.

Hal ini tentu akan mendorong kondisi perekonomian Indonesia menuju level yang lebih baik. (07/11)

Penulis : Rahmatika Layli @lailyy.raaaa